Tips : Sampah Untuk Briket

February 14th, 2009 / No Comments » / by admin

Tips terbaru yang berhasil kami dapat : Membuat Briket dari sampah organik, terutama daun kering.

Jangan buang atau bakar daun yang berjatuhan! Sampah organik itu ternyata bisa
diolah menjadi briket atau bahan bakar padat untuk memasak. dengan demikian,
Anda tak perlu keluar uang atau pusing mencari minyak tanah atau gas.

Briket dari sampah dedaunan

“Jadi buat masyarakat jika banyak sampah daun-daunan sebaiknya jangan dibuang
begitu saja. Jangan juga cuma dibuat pupuk kompos. Ternyata sampah dedaunan 
bisa dibuat menjadi briket. Caranya sangat mudah

Cara buat briket sampah

1. Kumpulkan sampah daun di halaman rumah
2. Sampah dibakar bersama campuran lem kanji dan arang batok kelapa.
3. Lamanya pembakaran tergantung dari volume sampah daun.
4. Campuran sampah daun, lem kanji, dan batok kelapa jangan sampai jadi arang.
5. Hasil pembakaran dicetak ke dalam pipa paralon.
6. Cetakan itu dikeringkan 1-2 hari dan hasilnya siap untuk memasak. Biasanya
untuk tukang sate.

Tags: , , ,

Urusan Sampah, Contohlah Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi

January 8th, 2009 / No Comments » / by admin

JAKARTA - Apa yang dilakukan Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi dalam mengelola sampah merupakan salah satu solusi yang patut dicontoh oleh masyarakat pada permukiman padat penduduk di Ibu Kota Jakarta. Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna, ternyata mampu diberdayakan untuk meningkatkan taraf hidup setidaknya untuk 90 keluarga korban gusuran di bantaran Kali Angke pertengahan tahun 2002 lalu.
Di atas areal tanah seluas 5,1 hektare hasil sumbangan Perum Perumnas yang berlokasi di Kelurahan Cengakreng Timur, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat tersebut, kini dijadikan proyek percontohan rumah susun terpadu Bunda Tzu-Chi. Dalam kompleks rumah susun bernuansa mandarin tersebut, terdapat sebanyak 1.100 unit rumah tipe 36 yang dibagi dalam beberapa blok.
Dalam rusun tersebut juga tersedia fasilitas sekolah mulai dari tingkat playgroup hingga sekolah dasar (SD) dengan prasarana belajar dengan tenaga pengajar berkualitas yang tak kalah dengan sekolah-sekolah elite di tempat lain. Tak cuma itu, Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi juga mendirikan sebuah rumah sakit berstandar internasional yang bisa dimanfaatkan oleh warga rusun dan sekitarnya dengan biaya yang relatif cukup murah.
Untuk dapat tinggal di rusun Bunda Tzu-Chi yang lengkap dengan mebel dan perabot rumah tangga, setiap penghuni hanya dikenakan biaya sewa sebesar Rp 90.000 per bulan dengan tambahan biaya listrik dan air yang besarnya disesuaikan dengan pemakaian. “Setiap bulannya para penghuni paling besar hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 150.000 untuk uang sewa rumah, biaya listrik dan air,” ujar Wakil Ketua Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi, Sugianto Kusuma.
Layaknya konsep sosialis “sama rata, sama rasa”, setiap penghuni boleh menempati rusun tersebut tanpa ada batasan waktu, namun mereka tidak diperbolehkan untuk memindahtangankan hak sewa rumah susun tersebut kepada pihak lain. Akan tetapi mereka boleh mewariskan hak sewa kepada anak-cucu mereka jika mereka telah meninggal dunia.
Sedangkan untuk dapat bersekolah, setiap murid hanya dikenakan iuran sekolah sebesar Rp 10.000 per bulan. Segala kebutuhan belajar seperti baju seragam dan buku pelajaran pun diberikan secara cuma-cuma.
Anda mungkin akan terkagum-kagum jika bisa langsung menyaksikan keriangan bocah-bocah yang tinggal di Rusun Bunda Tzu-Chi. Tak tampak lagi wajah kumal dengan pakaian compang-camping yang biasa mereka kenakan saat masih tinggal di bantaran kali. Gaya bicara dan sikap yang mereka tunjukan pun terlihat lebih terpelajar dan santun dibandingkan sebelumnya.
Dengan segala fasilitas serta peningkatan taraf hidup yang diberikan kepada setiap penghuni dengan biaya yang relatif murah tersebut, mungkin akan muncul pertanyaan dari mana biaya yang diperoleh yayasan untuk membiayai pengabdian yang sangat mulia tersebut. Ternyata semua fasilitas yang diberikan kepada para penghuni yang sebelumnya merupakan korban gusuran di bantaran Kali Angke tersebut dibiayai dari hasil pengolahan sampah.

Daur Ulang
Kembali muncul pertanyaan, bagaimana mungkin sampah yang sebelumnya dianggap tidak berati bisa membiayai proyek percontohan yang telah terbukti berhasil merubah taraf hidup masyarakat pinggiran yang selama ini tersisihkan.
Yah, memang sampah yang telah merubah taraf hidup mereka menjadi lebih baik. Dengan filosofi “Mengubah sampah menjadi emas, emas menjadi cinta kasih, cinta kasih menyebar ke seluruh dunia berbagi rasa sesama manusia” itulah, Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi bisa mewujudkan mimpi kaum tertindas untuk dapat menikmati hidup layak dengan sandang, pangan, papan dan bekal pendidikan bagi anak-anak mereka.
Konsep daur ulang yang dikembangkan oleh Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi memang terlihat sangat sederhana. Namun dari kesederhanaan itu yang tidak disadari oleh banyak orang, ternyata bisa bermanfaat bagi orang banyak.
Nasib sekitar 90 kepala keluarga yang tinggal di Rusun Bunda Tzu-Chidi memang sangat tergantung dari apa yang dihasilkan dari sebuah gudang pengolahan sampah daur ulang yang terletak di bagian belakang rusun tersebut.
Pola donasi sampah kering untuk didaur ulang tersebut selama ini terbukti mampu menghidupi mereka. Abdul Muis, Ketua Pelaksana Daur Ulang Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi mengungkapkan, bahwa untuk membantu kesejahteraan para penghuni rusun, pihaknya hanya membutuhkan sampah-sampah kering yang bisa didaur ulang.
Selain dari para penghuni yang tinggal di dalam rusun, sumbangan berbentuk sampah kering itu juga didapat dengan sistem jemput bola di beberapa kawasan perumahan elite di Jakarta seperti di kawasan Ancol Timur, Ancol Barat, Pluit, Muara Karang, Kepala Gading dan Sunter.
Setiap dua minggu sekali, truk pengangkut sampah milik Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi menyambangi perumahan-perumahan elite tersebut untuk meminta sumbangan sampah kering yang bisa didaur ulang.
Sedangkan untuk para penghuni sendiri, diwajibkan untuk memisahkan sampah mereka pada dua kantong plastik atau tong-tong sampah yang bertuliskan sampah kering dan sampah basah.
Uniknya setiap hari para murid di Sekolah Bunda Tzu-Chi diwajibkan membawa sampah kering ke sekolah. “Setiap pagi mereka berlomba-lomba mengumpulkan sampah yang ada di rumah mereka masing-masing untuk di bawa ke sekolah. Mereka sadar benar selain untuk menjaga kebersihan, sampah-sampah tersebut juga telah membantu mereka untuk mendapat kehidupan yang lebih layak dibanding sebelumnya,” kata Kepala Sekolah Bunda Tzu-Chi Jefrry Jansen.
Sedangkan pengelompokan sampah kering sendiri menurut Abdul Muis digolongkan menjadi empat bagian. Jenis-jenis sampah kering yang bisa didaur ulang tersebut meliputi kertas, plastik, alat-alat rumah tangga dan alumunium. Karenanya ia berharap kepada setiap masyarakat untuk dapat membantu upaya mereka dalam mewujudkan cita-cita dan impian kalangan masyarakat yang tidak mampu.
Dengan begitu, beramal tidak harus dengan uang, sampah pun bisa menjadi pahala jika kita sumbangkan kepada pihak-pihak yang bisa memanfaatkannya untuk mengangkat taraf hidup masyarakat yang tertidas seperti konsep yang digagas Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi yang pusatnya ada di Taiwan.
Tak heran bila Wali Kota Jakarta Barat Fadjar Panjaitan beserta jajaran camatnya dibuat terkagum-kagum saat melakukan kunjungan ke Rusun Bunda Tzu-Chi, Kamis (25/11). “Rasanya saya tak perlu mengajak para camat saya ke luar negeri untuk study banding tentang pengolahan sampah. Dari kunjungan ini saya berharap para camat bisa menerapkan konsep yang sama di wilayahnya masing-masing,” ujar Fadjar.
Terlebih lagi dari sekitar 6000 meter kubik sampah yang dihasilkan masyarakat di wilayah Jakarta Barat setiap harinya, 40 persennya merupakan sampah kering yang masih bisa dimanfaatkan bagi orang banyak. Selain di Jakarta, Yayasan Cinta Kasih Tzu-Chi juga telah dibangun dibeberapa kota besar lainnya di Indonesia seperti Medan, Bandung, Surabaya dan Makassar.
(SH/mohamad ridwan)

Tags: ,

Jepang : Semen dari Sampah

December 27th, 2008 / No Comments » / by admin

Oleh Dedy Eka Priyanto
Jepang, sebuah negeri penuh inovasi. Mungkin sebutan itu sesuai dengan bagaimana jepang menangani masalah sampah. Setelah berhasil membuat sebuah airport berkelas internasional di Kobe yang dibuat diatas lapisan sampah, lalu menerapkan pembuatan pupuk dari sampah di berbagai hotel di jepang, kini jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang kemudian dinamakan dengan ekosemen.

Ekosemen

Diawali penelitian di tahun 1992, dengan dibiayai oleh Development Bank of Japan, para peneliti Jepang telah meneliti kemungkinan abu hasil pembakaran sampah, endapan air kotor dijadikan sebagai bahan semen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil pembakaran sampah mengandung unsur yg sama dg bahan dasar semen pada umumnya. Pada tahun 1998, setelah melalui proses uji kelayakan akhirnya pabrik pertama didunia yang mengubah sampah menjadi semen didirikan di Chiba. Pabrik tersebut mampu menghasilkan ekosemen 110.000 ton per tahunnya. Sedangkan sampah yang diubah menjadi abu yang kemudian diolah menjadi semen mencapai 62.000 ton per tahun, endapan air kotor dan residu pembakaran yang diolah mencapai 28.000 ton per tahun. Hingga saat ini sudah dua pabrik di Jepang yang memproduksi ekosemen.

Gambar 1. Simulasi pembuatan eko semen dari limbah rumah tangga

Pembuatan ekosemen

Penduduk jepang membuang sampah baik organik maupun anorganik, sekitar 50 juta ton/tahun. Dari 50 ton per tahun tersebut yang dibakar menjadi abu sekitar 37 ton per tahun. Sedangkan abu yang dihasilkan mencapai 6 ton/tahunnya. Dari abu inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan dari pembuatan ekosemen. Abu ini dan endapan air kotor mengandung senyawa-senyawa dalam pembentukan semen biasa. Yaitu, senyawa-senyawa oksida seperti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Oleh karena itu, abu ini bisa berfungsi sebagai pengganti clay yang digunakan pada pembuatan semen biasa.

Namun CaO yang terkandung pada abu hasil pembakaran sampah dinilai masih belum mencukupi, sehingga limestone (batu kapur) sebagai sumber CaO masih dibutuhkan sekitar 52 persen dari keseluruhan. Sedangkan pada semen biasa, limestone yg dibutuhkan mencapai 78 persen dari keseluruhan.

Proses selanjutnya adalah abu hasil pembakaran sampah (39 persen), limestone (52 persen), endapan air kotor (8 persen) dan bahan lainnya dimasukkan ke dalam rotary klin untuk kemudian dibakar. Untuk mencegah terbentuknya dioksin, pada proses pembakaran di rotary klin, dilakukan pada 1400 derajat celcius lebih dimana pada suhu tersebut dioksin terurai secara aman.

Gambar 2. Rotary klin (Sumber : www.ichiharaeco.co.jp)

Kemudian gas hasil pembakaran pada rotary klin didinginkan secara cepat untuk mencegah proses pembentukan dioksin ulang. Sehingga hasil gas buangan tidaklah berbahaya bagi manusia. Sedangkan pada hasil pembakaran yang masih mengandung senyawa logam dipisahkan, untuk kemudian dapat dipergunakan untuk kebutuhan lain.
Hasil akhir dari proses ini adalah ekosemen.

Pengaruh plastik vinil

Plastik vinil yang terdapat dalam sampah pada proses pembakaran akan mengakibat kekuatan konkrit ekosemen akan berkurang. Hal ini diakibatkan oleh adanya gas Cl2 hasil peruraian plastik vinil yang dapat mempengaruhi kekuatan konkrit ekosemen.

Kualitas ekosemen

Berdasarkan hasil pengujian JSA (Japan Standar Association) dinyatakan bahwa ekosemen mempunyai kualitas yang sama baiknya dengan semen biasa. Sehingga, hingga saat ini penggunaan ekosemen sudah digunakan dalam pembangunan jembatan, jalan, rumah, dan bangunan lainnya di Jepang.

Gambar 3. Struktur ekosemen (Sumber : www.ichiharaeco.co.jp)

Dengan adanya pengubahan sampah menjadi semen, menambah alternatif pengolahan sampah menjadi barang bermanfaat bagi manusia yang telah membuangnya. Selain itu dengan adanya alternatif pengolahan sampah menjadi semen, biaya pengolahan sampah di Jepang menjadi lebih murah. Bila sebelumnya 40.000 yen per ton (pengolahan sampah konvensional) menjadi 39.000 yen per ton (pengolahan sampah hingga menjadi semen).

Peluang di Indonesia

Indonesia belum bisa lepas dari masalah sampah. Mulai dari penolakan warga masyarakat sekitar TPA akibat kepulan asap dan bau yang ditimbulan pengolahan sampah saat ini hingga kejadian yang tidak pernah dilupakan, tragedi leuwih gajah yang merenggut 24 nyawa tak bersalah.

Sudah banyak upaya yang dilakukan, termasuk dengan mengubahnya menjadi sumber energi (metan) namun akibat kurangnya prospek dari segi ekonomi, akhirnya perkembangannya masih jalan ditempat.

Berhasilnya Jepang, mengolah sampah menjadi semen, tentu menjadi peluang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia. Di Jakarta saja sampah yang dihasilkan oleh warganya mencapai 6000 ton lebih per hari. Selain itu secara prinsip, pembuatan ekosemen hampir sama dengan pembuatan semen biasa, sehingga jika bisa dilakukan kerja sama dengan pihak industri semen, maka akan jadi kerjasama yang menguntungkan baik pihak pemerintah maupun pihak industri. Dari pihak pemerintah penanganan sampah bisa sedikit teratasi dan dari pihak industri mampu mengurangi penggunaan limestone (26 persen).

Namun yang terpenting adalah kemauan pemerintah, khususnya pemerintah kota/daerah, untuk mengelola sampah dengan baik dan memulai untuk mencoba memisahkan sampah antara sampah organik, anorganik, botol dan kaleng menjadi kebudayaan bangsa Indonesia secara luas. Sehingga peluang pemanfaatan sampah menjadi semen atau produk yang lain bisa oleh pihak industri bisa lebih ekonomis.

Dedy Eka Priyanto, Tokyo National College of Technology. Email: dedy_monbusho05@yahoo.co.jp

Tags: , ,

Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup

December 26th, 2008 / No Comments » / by admin

Pengelolaan Persampahan: Menuju Indonesia Bebas Sampah (Zero Waste )

Sampah merupakan konsekuensi dari adanya aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan buangan atau sampah. Jumlah atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap barang/material yang kita gunakan sehari-hari. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat tergantung dari jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyrakat.

Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari.  Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55.000 m3). [Bapedalda, 2000]. Selain Jakarta, jumlah sampah yang cukup besar terjadi di Medan dan Bandung. Kota metropolitan lebih banyak menghasilkan sampah dibandingkan dengan kota sedang atau kecil.

Jenis Sampah

Secara umum, jenis sampah dapat dibagi 2 yaitu sampah organik (biasa disebut sebagai sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering). Sapah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, dll. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. Sebaliknya dengan sampah kering, seperti kertas, plastik, kaleng, dll. Sampah jenis ini tidak dapat terdegradasi secara alami.

Pada umumnya, sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah, yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Selama ini pengleolaan persampahan, terutama di perkotaan, tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sapah bersifat terpusat. Misanya saja, seluruh sampah dari kota Jakarta harus dibuag di Tempat Pembuangan Akhir di daerah Bantar Gebang Bekasi. Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini. Belum lagi, sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering. Padahal, dengan mengelola sampah besar di tingkat lingkungan terkecil, seperti RT atau RW, dengan membuatnya menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat diturunkan/dikurangi.

Alternatif Pengelolaan Sampah

Untuk menangani permasalahan sampah secara menyeluruh perlu dilakukan alternatif-alternatif pengelolaan. Landfill bukan merupakan alternatif yang sesuai, karena landfill tidak berkelanjutan dan menimbulkan masalah lingkungan. Malahan alternatif-alternatif tersebut harus bisa menangani semua permasalahan pembuangan sampah dengan cara mendaur-ulang semua limbah yang dibuang kembali ke ekonomi masyarakat  atau ke alam, sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap sumberdaya alam. Untuk mencapai hal tersebut, ada tiga asumsi dalam pengelolaan sampah yang harus diganti dengan tiga prinsip–prinsip baru. Daripada mengasumsikan bahwa masyarakat akan menghasilkan jumlah sampah yang terus meningkat, minimisasi sampah harus dijadikan prioritas utama.

Sampah yang dibuang harus dipilah, sehingga tiap bagian dapat dikomposkan atau didaur-ulang secara optimal, daripada dibuang ke sistem pembuangan limbah yang tercampur seperti yang ada saat ini. Dan industri-industri harus mendesain ulang produk-produk mereka untuk memudahkan proses daur-ulang produk tersebut. Prinsip ini berlaku untuk semua jenis dan alur sampah.

Pembuangan sampah yang tercampur merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi/ mencemari bahan-bahan yang mungkin masih bisa di daur-ulang dan racun dapat menghancurkan kegunaan dari keduanya. Sebagai tambahan, suatu porsi peningkatan alur limbah yang berasal dari produk-produk sintetis dan produk-produk yang tidak dirancang untuk mudah didaur-ulang; perlu dirancang ulang agar sesuai dengan sistem daur-ulang atau tahapan penghapusan penggunaan.

Program-program sampah kota harus disesuaikan dengan kondisi setempat agar berhasil, dan tidak mungkin dibuat sama dengan kota lainnya. Terutama program-program di negara-negara berkembang seharusnya tidak begitu saja mengikuti pola program yang telah berhasil dilakukan di negara-negara maju, mengingat perbedaan kondisi-kondisi fisik, ekonomi, hukum dan budaya. Khususnya sektor informal (tukang sampah atau pemulung) merupakan suatu komponen penting dalam sistem penanganan sampah yang ada saat ini, dan peningkatan kinerja mereka harus menjadi komponen utama dalam sistem penanganan sampah di negara berkembang. Salah satu contoh sukses adalah zabbaleen di Kairo, yang telah berhasil membuat suatu sistem pengumpulan dan daur-ulang sampah yang mampu mengubah/memanfaatkan 85 persen sampah yang terkumpul dan mempekerjakan 40,000 orang.

Secara umum, di negara Utara atau di negara Selatan, sistem untuk penanganan sampah organik merupakan komponen-komponen terpenting dari suatu sistem penanganan sampah kota. Sampah-sampah organik seharusnya dijadikan kompos, vermi-kompos (pengomposan dengan cacing) atau dijadikan makanan ternak untuk mengembalikan nutirisi-nutrisi yang ada ke tanah. Hal ini menjamin bahwa bahan-bahan yang masih bisa didaur-ulang tidak terkontaminasi, yang juga merupakan kunci ekonomis dari suatu alternatif pemanfaatan sampah. Daur-ulang sampah menciptakan lebih banyak pekerjaan per ton sampah dibandingkan dengan kegiatan lain, dan menghasilkan suatu aliran material yang dapat mensuplai industri.

Tangguang Jawab Produsen dalam Pengelolaan Sampah

Hambatan terbesar daur-ulang, bagaimanapun, adalah kebanyakan produk tidak dirancang untuk dapat didaur-ulang jika sudah tidak terpakai lagi. Hal ini karena selama ini para pengusaha hanya tidak mendapat insentif ekonomi yang menarik untuk melakukannya. Perluasan Tanggungjawab Produsen (Extended Producer Responsibility - EPR) adalah suatu pendekatan kebijakan yang meminta produsen menggunakan kembali produk-produk dan kemasannya. Kebijakan ini memberikan insentif kepada mereka untuk mendisain ulang produk mereka agar memungkinkan untuk didaur-ulang, tanpa material-material yang berbahaya dan beracun. Namun demikian EPR tidak selalu dapat dilaksanakan atau dipraktekkan, mungkin baru sesuai untuk kasus pelarangan terhadap material-material yang berbahaya dan beracun dan material serta produk yang bermasalah.

Di satu sisi, penerapan larangan penggunaan produk dan EPR untuk memaksa industri merancang ulang ulang, dan pemilahan di sumber, komposting, dan daur-ulang di sisi lain, merupakan sistem-sistem alternatif yang mampu menggantikan fungsi-fungsi landfill atau insinerator. Banyak komunitas yang telah mampu mengurangi 50% penggunaan landfill atau insinerator dan bahkan lebih, dan malah beberapa sudah mulai mengubah pandangan mereka untuk menerapkan “Zero Waste” atau “Bebas Sampah”.

Sampah Bahan Berbahaya Beracun (B3)

Sampah atau limbah dari alat-alat pemeliharaan kesehatan merupakan suatu faktor penting dari sejumlah sampah yang dihasilkan, beberapa diantaranya mahal biaya penanganannya. Namun demikian tidak semua sampah medis berpotensi menular dan berbahaya. Sejumlah sampah yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas medis hampir serupa dengan sampah domestik atau sampah kota pada umumnya. Pemilahan sampah di sumber merupakan hal yang paling tepat dilakukan agar potensi penularan penyakit dan berbahaya dari sampah yang umum.

Sampah yang secara potensial menularkan penyakit memerlukan penanganan dan pembuangan, dan beberapa teknologi non-insinerator mampu mendisinfeksi sampah medis ini. Teknologi-teknologi ini biasanya lebih murah, secara teknis tidak rumit dan rendah pencemarannya bila dibandingkan dengan insinerator.

Banyak jenis sampah yang secara kimia berbahaya, termasuk obat-obatan, yang dihasilkan oleh fasilitas-fasilitas kesehatan. Sampah-sampah tersebut tidak sesuai diinsinerasi. Beberapa, seperti merkuri, harus dihilangkan dengan cara merubah pembelian bahan-bahan; bahan lainnya dapat didaur-ulang; selebihnya harus dikumpulkan dengan hati-hati dan dikembalikan ke pabriknya. Studi kasus menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan secara luas di berbagai tempat, seperti di sebuah klinik bersalin kecil di India dan rumah sakit umum besar di Amerika.

Sampah hasil proses industri biasanya tidak terlalu banyak variasinya seperti sampah domestik atau medis, tetapi kebanyakan merupakan sampah yang berbahaya secara kimia.

Produksi Bersih dan Prinsip 4R

Produksi Bersih (Clean Production) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologis. Prinsip-prinsip Produksi Bersih adalah:

Prinsip-prinsip yang juga bisa diterapkan dalam keseharian misalnya dengan menerapkan Prinsip 4R yaitu:

  • Reduce (Mengurangi); sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan.
  • Reuse (Memakai kembali); sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
  • Recycle (Mendaur ulang); sebisa mungkin, barang-barang yg sudah tidak berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
  • Replace ( Mengganti); teliti barang yang kita pakai sehari-hari. Gantilah barang barang yang hanya bisa dipakai sekalai dengan barang yang lebih tahan lama. Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah lingkungan, Misalnya, ganti kantong keresek kita dnegan keranjang bila berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidka bisa didegradasi secara alami.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Pius Ginting
Officer Publikasi Eksekutif Nasional WALHI
Email Pius Ginting
Telepon kantor: +6221-7941673
Mobile:
Fax: +6221-7941672; 79193363

Source : (http://www.walhi.or.id)

Tags:

Konflik Sampah, Lemahnya Manajemen Persampahan

December 26th, 2008 / No Comments » / by admin

TEMPO Interaktif, Jakarta:Konflik sampah perkotaan yang berujung pada kerusuhan massa terjadi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bojong, Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada Senin (22/11). Sekitar 2000 massa dari tujuh desa mengamuk, merusak serta membakar semua bangunan di areal TPST.

Aparat kepolisian datang dan menembaki warga, tujuh orang jadi korban timah panas. Sebanyak 19 orang warga dijadikan tersangka yang memprovokasi kerusuhan. Pengelola TPST Bojong, PT. Wira Guna Sejahtera, amat terpukul dan menderita kerugian materi sekitar Rp. 30 miliar.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Kapolri Jenderal Da?i Bachtiar menyelidiki kasus ini. Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, langsung mendatangi Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan. Dari Bandung, Sutiyoso meminta Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan jaminan kepada PT WGS agar bisa mengoperasikan TPST Bojong.

Namun, warga Bojong yang sudah kadung kecewa bertekad untuk tetap menolak keberadaan TPST. DPRD Kabupaten Bogor, yang sebelumnya memberi peluang beroperasinya TPST, kini meminta Pemerintah Kabupaten Bogor untuk mengevaluasi pengoperasian TPST. Bahkan sebagian besar wakil rakyat meminta TPST ditutup.

Konflik persampahan di TPST Bojong, merupakan kasus kedua. Kasus pertama terjadi di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Bantargebang, Kota Bekasi, 10 Desember 2001. Selain rusuh, warga bersama Pemerintah dan DPRD Kota Bekasi melakukan penutupan TPA Bantargebang.

Dampaknya, selama sepekan sebelum dan sesudah Idul Fitri 1412 Hijriyah, sampah tak terangkut di ibu kota negara itu. Sampah yang seharinya terhimpun 25.600 meter kubik atau setara dengan 6000 ton, menggunung ratusan ribu meter kubik. Jakarta pun bagai tertimbun sampah dengan aroma tak sedap. Penutupan TPA Bantargebang pun kembali terjadi pada awal Januari 2004.

Belajar dari kasus penutupan dan kerusuhan TPA Bantargebang, sebenarnya kerusuhan TPST Bojong sudah diperkirakan sebelumnya. Alasannya, dari berbagai anatomi yang melatarbelakanginya, memiliki kemiripan dan bahkan kesamaan.

Dalam buku yang saya susun, Konflik Sampah Kota: Catatan Reportase Konflik Persampahan Pemerintah DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota Bekasi dalam Menangani TPA Sampah Bantargebang (Komunitas Jurnalis Bekasi, 2003), terlihat betapa berbagai sistem dan teknologi pengolah sampah cukup ideal. Setidaknya terdapat tiga sistem, yakni dikubur (balapres), dibakar (incenerator), dan sanitary landfill (menggunakan pelapis geo tekstil).

Menurut konsepnya, semua sistem dan teknologi tersebut cukup aman dari sudut lingkungan hidup. Karya teknologi modern tersebut mulai menjadi bermasalah, begitu dikelola dengan manajemen yang kurang optimal dan tidak profesional. Masalah utama yang dikeluhkan sebagian besar warga, justru bukan di lokasi pembuangan atau pemusnahan sampah, melainkan ketika diangkut menggunakan truk dari Jakarta ke TPA dan TPST.

Pengangkutan sampah yang pada awal perjanjian tidak menimbulkan pencemaran, dilakukan secara sembarangan. Sampah yang dikirim masih basah dan mengandung banyak air lindi (leachete). Kondisi ini diperparah oleh banyaknya kendaraan pengangkut sampah yang bocor, terpal robek, dan simpul jaring tak utuh. Dampaknya, air lindi dengan aroma tak sedap berceceran sepanjang jalan-jalan utama, jalan tol, dan jalan kampung. Aroma tak sedap inilah yang dihirup warga metropolitan yang pengguna jalan. Warga mengeluh dan kerap menyumpahserapahi truk-truk sampah yang melintas.

Pada masa Orde Baru yang represif, tidak memberi tempat bagi keluhan warga, sehingga pelanggaran yang dilakukan sopir truk sampah dan petugas dinas kebersihan, menjadi hal biasa tanpa sangsi. Tragisnya, perilaku buruk tersebut tidak berubah di era reformasi tatkala posisi masyarakat lebih kuat dari pada pemerintah. Keluhan pun mendapat tempat di berbagai media massa dan unjuk rasa. Protes menjadi bentrokan dan kerusuhan pun terjadi, tatkala pemerintah daerah bertindak arogan dan masyarakat yang menghendaki lenyapnya pencemaran lingkungan.

Masyarakat mendapat tempat di hadapan wakil rakyatnya di DPRD. Sementara itu Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, selalu menerima laporan asal bapak senang (ABS), sehingga ketika ditanya berbagai pihak soal maslaah sampah, jawabannya selalu standar: sudah dikelola dengan baik. Sebagian anggota DPRD DKI jakarta cenderung elitis.

Selama bertahun-tahun menduduki kursi empuk, boleh dikatakan mereka nyaris tidak pernah melakukan inspeksi ke lapangan yang beraoma busuk itu. Mereka lebih asik menghitung angka-angka dan pemecahan masalah di atas meja dan kertas. Kalaupun melakukan kunjungan, mereka lebih senang ?jalan-jalan? ke luar negeri untuk meninjau teknologi persampahan mutakhir atau mendengarkan ekspose calon investor, yang barang kali belum tepat untuk jangka pendek.

Aparat peemrintahan di sekitar lokasi pembuangan sampah, entah kenapa, juga menyatakan kondisi wilayahnya aman untuk pembuangan sampah. Padahal di lapangan sampah berikut aroma busuknya adalah sesuatu yang ril dan tidak dapat dimanipulasi.

Ada gula ada semut. Kehadiran TPA dan TPST, cepat maupun lambat akan menyedot kehadiran pemulung. Memang, kehadiran pemulung di TPST Bojong belum dirasakan warga sekitar. Namun di TPA Bantargebang, sejak dibangunnya tahun 1980-an, jumlahnya sudah mencapai sekitar 5000 orang.

Pada mulanya para pemulung mengais rezeki di dalam TPA, tapi pada perkembangannya mereka menjadi tidak peduli dengan dampak lingkungan. Mereka memaksa atau kongkalikong dengan sopir truk agar menurunkan sampah sebelum dimasukkan ke dalam sanitary landfill. Sampah-sampah yang bernilai ekonomis mereka ambil, sedangkan sisanya mereka biarkan berceceran atau dibuang di empang dan sawah. Dampaknya, air lindi yang kerap mengandung bahan berbahaya dan beracuin (B3) tidak tertampung di dalam bak sanitary landfill dan tidak diolah di dalam instalasi pengolah air sampah (Ipas), melainkan langsung menyerap ke dalam tanah pemukiman warga.

Para bos dan pemulung yang lebih cenderung mementingkan keuntungan ekonomi semata itu ingin segera sampah dikeluarkan dari badan truk. Kebetulan kontrol oknum petugass Dinas Kebersihan DKI Jakarta amat lemah, bahkan beberapa di antaranya menjadi oknum untuk mencari keuntungan di luar gaji atau honor resmi.

Kesempatan dalam kesempitan itu dijadikan peluang. Maka oknum-oknum nakal itu pun kongkalikong untuk bertransaksi menjelang pintu gerbang TPA. Maka, hanay demi uang tambahan dan keuntungan sesaat, sampah dibuang di luar TPA.

Ironisnya, para pelangar sistem tersebut tidak diberi sangsi. Kalau pun ada sopir truk sampah yang tertangkap tangan, hanya dikembalikan kepada atasannya. Setelah itu publik tidak mengetahui apakah diberi sanksi ataudibebaskan. Akibatnya, lingkungan sekeliling TPA yang seharusnya asri dengan pepohonan rindang dan sejuk, menjadi kumuh dan menjadi sumber pencemaran lingkungan paling dominan.

Ventilasi gas keluar dari sampah yang terbuat dari paralon ikut dibabat, dipulung, dan dijual oleh pemulung. Tembok TPA banyak dijebol, sehingga siapa pun bisa masuk dan keluar TPA dengan bebas. Sedangkan sabuk hijau (green belt) berupa tanaman pelindung dan penyaring polusi udara tidak kunjung terwujud.

Agar kemarahan publik yang berbuntut pada aksi penutupan dan kerusuhan seperti di TPST Bojong dan TPA Bantargebang, Pemerintah DKI Jakarta dan pemerintah daerah di sekelilingnya, harus segera membenahi kelemahan manajemen persampahannya. Bahkan, karena telah menjadi persoalan besar, persoalan sampah tidak bisa hanya ditangani secara teknis, tetapi juga secara sosial, budaya, dan moral.

Keliru besar kalau kita menganggap sampah sekadar persoalan kecil, teknis, sekadar soal kebersihan kota belaka. Langkah itu tentu saja tidak akan terwujud tanpa didukung semua komponen stakeholder. Perbaikan manajemen persampahan harus dimulai dari tingkat yang paling dasar, yakni kesadaran kultur pejabat dana masyarakat yang bersendikan pada nilai-nilai ajaran agama yang dianut setiap keluarga.

Ali Anwar-Tempo

(Source:http://www.tempointeraktif.com)

Tags: , ,

Hello world!

December 26th, 2008 / 1 Comment » / by admin

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!